Krisis Singapore Airlines: Turbulensi di Langit Maskapai

foto
Penulis: Tjuk Suwarsono
(Singapore Airlines)
 

KBRN, Jakarta: Musim gugur maskapai penerbangan segera tiba, serempak di Indonesia maupun dunia sama buruknya. Turbulensi hebat rupanya tak hanya milik langit tempat pesawat menjelajah. Badai krisis di darat tak kalah dahsyatnya.

Siapakah mahluk penyebab turbulensi ini, tak lain pandemi covid-19 yang memukul dan meruntuhkan segala hal. Tidak ada satu maskapai pun yang bisa lolos darinya. Tak satu jua pun yang sanggup menangguk laba. Masih mampu bertahan saja sudah prestasi.

Berbagai bandara besar dulu ramai disinggahi pesawat dan penumpang. Kini pemandangan berubah, hanggar dan halaman rumput bandara seakan  ‘kuburan’ pesawat yang menganggur. Riuh rendah airport yang megah mendadak senyap. Lorong dan ruang tunggunya melompong. Kelesuan ini juga merayap sampai ke luar bandara, pengemudi taksi, gojek, kios-kios makanan, hingga calo tiket tak berdaya dibuatnya.

Di zaman serba canggih ini, saat teknologi mengambil alih kekuasaan manusia, virus covid19 yang tak kasat mata tampil sebagai mesin pembunuh yang dahsyat. Rasanya belum pernah terjadi krisis hebat dan luas dialami sejarah modern peradaban ini.

Di tengah kelesuan akibat covid, musibah jatuhnya pesawat kian menambah kemuraman.  Perawatan yang minim, korosi di suku cadang mesin (katup pengatur aliran udara) yang menyebabkan mesin mati mendadak, adalah sedikit contoh.  Pilot dan awak kabin pun sering kelelahan karena mengejar efisiensi biaya. Lanskap manajemen maskapai juga berubah. Banyak karyawan terpaksa dirumahkan tanpa berbuat kesalahan.

Derita juga dialami maskapai hebat sekelas Singapore Airlines (SA). Kuartal 3 tahun 2020 yang lalu, maskapai ini babak belur, kehilangan ribuan pekerjaan dan terpaksa menghentikan sebagian besar armadanya. Rugi bersih Juli-September saja mencapai $1,7 miliar, setara Rp 24,31 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS). Padahal tahun sebelumnya, pada periode sama, labanya masih 94,5 juta dolar Singapura. Menurut AFP,  pendapatan SA pada kuartal III lalu menukik  81,4 persen. Ini kondisi terburuk sepanjang sejarah berdirinya SA.

SA terpaksa menjadwal ulang pengiriman pesawat baru dari Airbus dan Boeing, dan mengurangi sekitar 4.300 pekerjaan atau 20 persen karyawannya.  Dengan industri penerbangan terjerembab dalam krisis parah akibat pandemi, maskapai penerbangan telah beralih ke cara alternatif untuk mengumpulkan uang dari menawarkan flights to nowhere.

Konsep penerbangan ini semacam tur pesawat, lepas landas dan kembali ke bandara yang sama, Maskapai Australia Qantas, menikmati pendapatan mengesankan dengan membawa keliling penumpang mengelilingi Benua Australia. Peminatnya rata-rata penggemar penerbangan yang sudah rindu mengudara.

Di Singapura paket keliling ini mendapat protes sehubungan dengan pencemaran udara. Tak kurang akal, SA membuka paket rekreasi makan-makan di atas pesawat superjumbo A380 yang diparkir dan menawarkan penghantaran makanan penerbangan ke rumah-rumah.

Selanjutnya : Lufthansa Juga

Halaman 1 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00